Rabu, 18 Juli 2012

Makalah Perencanaan Pendidikan


M A K A L A H
PERENCANAAN PENDIDIKAN
-         INTERAKSI EDUKATIF -

Dosen Pengampu : Ust. Damanhuri, M. Pd



Oleh :
1.    Firman Haq
2.    M. Arifuddin
3.    M. Arifin Saddoen

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL-HAKIM
HIDAYATULLAH SURABAYA


DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BAB I

BAB II









Daftar Pustaka

Pendahuluan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Pembahasan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pengertian Interaksi Edukatif . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Prinsip – prinsip Interaksi Edukatif . . . . . . . . . . . . . . . .
Ciri – Ciri Interaksi Edukatif . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Faktor - Faktor Interaksi Edukatif . . . . . . . . . . . . . . . . .
Proses Interaksi Edukatif . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
CBSA dalam Interaksi Edukatif . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pola Pelaksanaan Keterampilan Proses dan CBSA. . .
Keberhasilan Interksi Edukatif . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .



. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .









KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan dan waktu kepada kita sehingga kita masih di berikan kesempatan dan waktu kepada kita sehingga kita masih di berikan kesehatan dan keakfiatan untuk bisa menyusun makalah mata kuliah Belajar dan Pembelajaran ini, sehingga makalah ini bisa tersusun dengan baik. Salawat serta salam tak lupa pula kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta ahli warisnya sekalian.
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan – kekurangan yang mungkin di luar dari pengetahuan kami. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun dari Ibu dan teman – teman sangat kami harapkan, sebagai pelajaran bagi kami untuk kedepannya bisa lebih baik.

Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN
Realitas manusia sebagai makhluk sosial, ia memiliki sifat sosial yang besar .Maka dibutuhkan suatu proses interaksi. Proses  interaksi ini  dapat terjadi dalam “ikatan situasi”. Dalam pengajaranpun terjadi suatu proses interaksi yang diupayakan berdasarkan ikatan tujuan pengajaran yang mana tujuan tersebut telah ditentukan dan telah disistematisasikan secara terarah.
Interaksi edukatif adalah sebuh interaksi yang tidak pernah sepi dari masalah. Perencanaan yang di anggap selesai dengan baik, ternyata dalam pelaksanaannya terkadang ditemui masalah yang tak terduga sebelumnya. Di sisi lain, permasalahan juga muncul pada anak didik kurang mampu menerapkan perolehannya, baik berupa pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai ke dalam situasi yang nyata dan berlainan. Kebanyakan anak didik hanya menerima informasi dan kurang dapat memahami hubungan dengan dunia lingkungannya.
Hal ini di sebabkan bahan pelajaran yang di berikan oleh guru dalam bentuk penjelasan kurang atau tidak di kaitkan dengan situasi lingkungan nyata. Sebanyak apapun bahan yang di berikan kepada anak didik, maka anak didik akan kurang mampu menerapkan perolehannya itu, bila guru menjelaskan bahan pelajaran tidak dikaitkan dengan situasi nyata yang sedang dihadapi dan dirasakan oleh anak didik.


BAB II
PEMBAHASAN
I. Pengertian interaksi edukatif dan unsur pokok
Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran.dalam artian yang lebih spesifik pada bidang pengajaran dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar. Interaksi belajar mengajar mengandung  suatu arti adanya kegiatan interaksi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di suatu pihak dengan warga belajar ( siswa, anak didik, subjek belajar ) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain.[1]
Dalam setiap bentuk interaksi  edukatif  mengandung dua unsur pokok; unsur  teknis dan unsur normatif . Dalam unsur normatif, antara guru ( sebagai pendidik), dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama. Misalnya dalam pengajaran pmp guru dan peserta didik harus meyakini pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia.pengajaran sebagai bagian dari pendidikan, sedangkan pendidikan bersifat normatif. Sedangkan suatu pendidikan dapat dirumuskan pula secara teknis dan merupakan pristiwa yang memiliki aspek teknis. Pendidikan sebagai kegiatan praktis yang berlangsung dalam suatu masa, terikat dalam situasi, terarah pada satu tujun. pristiwa ini adalah suatu rentetan kegiatan saling mempengaruhi, satu rangkaian  perubahan dan pertumbuhan serta perkembangan fungsi-fungsi psikis dan pisik.dalam rangkaiannya tersebut pristiwa yang menuju kepada  pembentukan itu sendiri merupakan suatu proses teknis. Setiapaktifitas pengajaran tidak dapat dilepaskan dari segi teknis semisal bagaimana upaya untuk membentuk manusia yang beriman  dan bertakwa terhadap tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan  dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadianyang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
II. Prinsip – prinsip Interaksi Edukatif
Prinsip – prinsip ini diharapkan mampu menjebatani dan memecahkan masalah yang sedang guru hadapi dalam kegiatan interaksi edukatif.Untuk tiu semua prinsip yang akan diuraikan berikut ini sebaiknya guru kuasai dan pahami betul-betul agar kegiatan interaksi edukatif dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Prinsip – prinsip tersebut adalah :
1. Prinsip motivasi
2. Prinsip berangkat dari persepsi yang dimiliki
3. Prinsip mengarah kepada titik pusat perhatian tertentu atau fokus tertentu
4. Prinsip keterpaduan
5. Prinsip pemecahan masalah yang dihadapi
6. Prinsip mencari, menemukan, dan mengembangkan diri
7. Prinsip belajar sambil bekerja
8. Prinsip hubungan sosial
9. Prinsip perbedaan Individual

III. Ciri-ciri Interaksi Edukatif
Dalam bentuknya interaksi mengandung unsur pokok diantaranya interaksi edukatif yang bersifat nomatif. Interaksi edukatif mempunyai ciri- ciri sebagai berikut:
  1. Interaksi edukatif mempunyai tujuan;
  2. Interaksi edukatif memilki bahan/pesan yang menjadi isi interaksi atau sebuah materi;
  3. Ditandai dengan pelajar atau peserta yang aktif;
  4. Guru berperan sebagai pembimbing
  5. Memiliki metode  tertentu dalam penyampaiannya untuk mencapai tujuan
  6. Mempunyai situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik
  7. Evaluasi terhadap hasil interaksi
Edi Suardi dalam bukunya Pedagogik (1980) merinci ciri-ciri interaksi belajar mengajar sebagai berikut :
  1. Interaksi belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu.
  2. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncana, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  3. Interaksi belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus
  4. Ditandai dengan adanya aktivitas siswa.
IV. Faktor-faktor  interaksi edukatif
Ada beberapa faktor yang mendasari terjadinya interaksi edukatif, diantaranya:
  1. faktor tujuan
dalam tujuan pendidikan atau pengajaran yang brsifat umum atau khusus, umumnya berkisar pada tiga jenis, yaitu:[2]
·         tujuan kognitif, yaitu tujuan yang berhubungan dengan pengertian dan pengatahuan
·         tujuan afektif, yaitu tujuan yang berhubungan dengan usaha merubah minat, setiap nilai dan alasan
·         tujuan psikomotoric, yaitu tujuan yang berkaitan dengan ketrampilan berbuat yang menggunakan telinga, tangan , mata, alat indra dan sebagainya.
·         Faktor bahan/materi/isi
  1. Faktor guru dan peserta didik
Guru dan peserta didik adalah dua subjek dalam interaksi pengajaran.guru sebagai pihak yang berinisiatif awal untuk menyelenggarakan pengajaran sedangkan peserta didik sebagai pihak yang mendapatkan manfaat dari proses pengajaran.ada bebeapa bidang yang dapat menunjang proses profesionalitas kerja guru
  1. Guru harus mengenal peserta didik
  2. Guru harus memiliki kecakapan memberi bimbingan
  3. Guru harus memiliki dasar yang luas tentang tujuan pendidikan atau pengajaran
  4. Guru harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang ilmu yang diajarkan
Adapun bagi peserta didik ada beberapa hal yang pelu diperhatikan
  1. Peserta didik harus mendahulukan kesucian jiwa. Al-ghazali pernah berkata mendahulukan kesucian jiwa dari kerendahan akhlak dan sifat-sifat peserta didik.[3]
  2. Peserta didik harus rajin untuk menuntut ilmu, bersedia untuk mencurahkan tenaga, jiwa dan pikiran serta minat dalam berkonsentrasi pada ilmu yag dipelajarinya
  3. Tidak sombong atas ilmu yang diperolehnya
  4. Peserta didik harus mengetahui kedudukan ilmu yang dipelajarinya
  1. Faktor metode
Metode suatu cara kerja yang sistematik dan umum, yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Semakin baik suatu metode semakin baik dan efektif dalam mencapai tujuan. Dalam penerapan suatu metode pengajaran harus memiliki  relevansi diantaranya
  1. Relevansi dengan tujuan
  2. Relevansi dengan bahan/ materi
  3. Relevansi dengan kemampuan guru
  4. Relevansi dengan keadaan pesert didik
  5. Relevansi dengan situasi pengajaran
  1. Faktor situasi
Yang disebut situasi adalah suasana belajar atau suasana kelas pengajaran termasuk disini adalah keadaan peserta didik keadaaan cuaca, keadaan guru dan keadaan kelas diantara keadaan tersebut ada yang dapat diperhitungkan dan ada yang tidak dapat diperhitungkan terhadap situasi yang dapat diperhitungkan guru dpat menyediakan alternatif metode-metode mengajar menurut perhitungan perubahan situasi.adapun situasi yangtidak dapat diperhitungkan yang disebabkan oleh perubahan yang mendadak atau tiba-tiba diperlukan kecekatan dalam mengambil keputusan terhdap metode yang digunakan.
  1. Faktor sumber pelajaran
Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tersebut tergantung pada kreativitas guru, waktu, biaya serta kebijakan-kebijakan lainnya.
Interaksi edukatif tidaklah berproses dalam kehampaan , tetapi ia berproses dalam kemaknaan. Didalamnya ada sejumlah nilai yang disampaikan kepada anak didik . Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi diambil dari berbagai sumber guna dipakai dalam proses interaksi edukatif.[4]
  1. Faktor alat dan peralatan
Alat dan peralatan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Alat tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan.
Alat dapat dibagi menjadi dua yaitu :
  1. Alat Nonmaterial, yang terdiri dari suruhan , perintah , larangan, nasihat dan sebagainya
  2. Alat material, yang  dapat berupa globe, papan tulis, batu kapur, gambar, diagram, lukisan, slide dan sebagainya
  1. Faktor evaluasi
Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar. Evaluasi dapat dilakukan oleh guru dengan memakai seperangkat istrumen penggali data seperti tes perbuatan, tes tertulis dan tes lisan
Tujuan evaluasi sendiri untuk  :
  1. mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan
  2.  memungkinkan guru menilai aktifitas/pengalaman yang didapat dan menilai metode mengajar yang dipergunakan.
V. Proses Interaksi Edukatif
Menurut R D CORNERS. Tugas mengajar guru dapat dibagi dalam tiga tahapan, yaitu:[5]
  1. Tahap Sebelum Pengajaran
Dalam tahap ini guru harus menyusun program tahunan pelaksanaan kurikulum, program semester, program satuan pelajaran (satpel), dan perencanaan program pengajaran. Dalam merencanakan program-program tersebut di atas perlu dipertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan :
  1. Bekal bawaan anak didik
  2. Perumusan tujuan pembelajaran
  3. Pemilihan metode
  4. Pemilihan pengalaman – pengalaman belajar
  5. Pemilihan bahan dan peralatan belajar
  6. Mempertimbangkan jumlah dan karakteristik anak didik
  7. Mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia
  8. Mempertimbangkan pola pengelompokan
  9. Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar
     2.       Tahap Pengajaran
Dalam tahap ini berlangsung  beberapa interaksi , yaitu: { interaksi antara guru dengan anak didik},{ anak didik dengan anak didik}, {anak didik dalam kelompok} atau {anak didik secara individual}. Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan apa yang telah direncanakan. Ada beberapa aspek yang perlu di pertimbangkan dalam tahap pengajaran ini, yaitu :
  1. Pengelolaan dan pengendalian kelas
  2. Penyampaian informasi
  3. Penggunaan tingkah laku verbal non verbal
  4. Merangsang tanggapan balik dari anak didik
  5. Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar
  6. Mendiagnosis kesulitan belajar
  7. Memperimbangkan perbedaan individual
  8. Mengevaluasi kegiatan interaksi
     3.  Tahap Sesudah Pengajaran
              Tahap ini merupakan kegiatan atau perbuatan setelah pertemuan tatap muka dengan anak didik. Beberapa perbuatan guru yang dilakukan pada tahap sesudah mengajar, antara lain :
a.  Menilai Pekerjaan anak didik
b.  Menilai pengajaran guru
c.  Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya
VI. CBSA dalam Interaksi Edukatif[6]
Cara belajar siswa aktif (CBSA) atau student active learning (SAL) bukan disiplin ilmu atau teori, melainkan merupakan cara, teknik atau dengan kata lain disebut teknologi. Sebagai konsep , CBSA adalah suatu proses kegiatan interaksi edukatif yang subjeknya adalah anak didik yang terlibat secara intelektual dan emosional, sehingga ia betul – betul berperan dan berpartisipasi aktif dala melakukan kegiatan belajar. Pengertian ini menempatkan anak didik sebagai inti dalam kegiatan interkasi edukatif.
Jadi, yang dimaksud dengan CBSA adalah salah satu strategi interaksi edukatif yang menuntut keaktifan dan partisipasi anak didik seoptimal mungkin, sehingga anak didik mampu mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif dan efisien.
1. Penerapan CBSA dalam Interkasi Edukatif
2. Derajat aktifitas belajar yang optimal
3. Indikator CBSA
4. Indikator Keberhasilan belajar
VII. Pola Pelaksanaan Keterampilan Proses dan CBSA        
1. Pelaksanaan keterampilan proses
Keterampilan proses adalah suatu pendekatan dalam proses interkasi edukatif. Keterampilan proses bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak didik menyadari, memahami, dan menguasai rangkaian bentuk kegiatan yang berhubungan dengan hasil belajar yang telah dicapai anak didik.
a. Tujuan dan lingkup kegiatan
b. Asas pelaksanaan kegiatan
c. Bentuk pelaksanaan kegiatan
d. Langkah – langkah pelaksanaan keterampilan proses
VIII. Keberhasilan Interkasi Edukatif
     1.  Pengertian
          Suatu proses interaksi edukatif tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran khusus bahan tersebut.
     2.  Indikator
          Yang menjadi petunjuk, bahan suatu proses belajar itu dianggap berhasil adalah sebagai berikut :
a.    Dayaserap terhadap bahan pengajaran yang di ajarkan mencapai prestasi tertinggi, baik secara individual maupun kelompok.
b.    Perilaku yang di gariskan dalam tujuan pembelajaran khusus (TPK) telah di capai oleh anak didik, baik secara indiviadual maupun kelompok.
     3.  Penilaian Keberhasilan
          Keberhasilan interkasi edukatif biasanya di ukur dengan tes prestasi (hasil belajar).Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes prestasi belajar dapat di manfaatkan untuk penilaian berikut :
a.    Tes formatif
b.    Tes Subsumatif
c.    Tes Sumatif
     4.  Tingkat keberhasilan
          Setiap interaksi edukatif selalu menghasilkan prestasi belajar. Masalah yang dihadapi adalah sampai di tingkat mana prestasi belajar yang telah dicapai.




KESIMPULAN
Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. Yaitu adanya kegiatan interaksi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di suatu pihak dengan warga belajar yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain. Interaksi dalam proses pembelajaran merupakan kata kunci menuju keberhasilan pada proses pembelajaran.
Dan dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam Interaksi Edukatif adalah bagaimana guru harus berusaha agar anak didik aktif dan kreatif secara optimal. Guru tidak harus terlena dengan menerapkan gaya mengajar tradisional. Karena gaya mengajar seperti itu sudah tidak sesuai dengan konsepsi pendidikan modern.
Pendidikan modern menghendaki penerapan CBSA (cara belajar siswa aktif) dalam kegiatan interkasi edukatif. Guru bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing dan anak didik yang lebih aktif, kreatif dalam belajar.





DAFTAR PUSTAKA
·         www.uns.ac.id/data/sp5.pdf
·         http://akta408.files.wordpress.com/2008/11/dyah11-far-menginte.doc
·         Rohani Ahmad, H Abu Ahmadi. 1991, Pengelola Pengajaran. Jakarta:  PT Rineka Cipta
·         http://topiknugroho.wordpress.com/2011/05/03/mengenal-interaksi-edukatif/
·         Sardiman A.M.2004, Interaksi Dan Motivasi Belajar Pengajar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
·         Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. Psikologi belajar. Jakarta:Rineka Cipta, 1991
·         Djamarah, Bahri Syaiful. Guru Dan Anak Didik Dalam Interkasi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta 2005



[1] topiknugroho.mengenal-interaksi-edukatif, (Jakarta:dunia kita,2005),20
[2] Mulyasa, enco, factor-faktor edukatif (bandung:remaja rosda, 2007),5
[3] Al-ghazalie,filsafat pendidikan islam,(Surabaya:pustaka,2008),6
[4] topiknugroho.mengenal-interaksi-edukatif, (Jakarta:dunia kita,2005),5
[5] Djamarah, Bahri Syaiful. Guru Dan Anak Didik Dalam Interkasi Edukatif. (Jakarta: PT Rineka Cipta 2005)

[6] Mulyasa,echo.belajar aktif CBSA (Jakarta:pustaka buku,2000),4

0 komentar:

Poskan Komentar